Ketika Rumah Runtuh, Semangat Tak Ikut Roboh: Kisah Mashita dari Dapur Umum BAZNAS
Pagi belum sepenuhnya terang ketika Mashita mulai beraktivitas di dapur umum Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) di Pondok Pesantren Pancasila Reok, Manggarai, Nusa Tenggara Timur. Usai salat Subuh, ia bersama relawan lainnya mulai menyiapkan makanan untuk para penyintas gempa.
Tangannya sibuk menyiapkan ratusan porsi makanan. Wajahnya mungkin masih menyimpan lelah, tetapi langkahnya tetap teguh.
Ada alasan mengapa aktivitas itu begitu berarti bagi Mashita. Ia bukan sekadar relawan. Ia juga seorang penyintas.
Rumah tempat ia dan keluarganya bernaung di Desa Salama, Kecamatan Reok (Reo), Kabupaten Manggarai, rusak akibat gempa. Kedua orang tuanya bahkan masih bertahan di posko pengungsian karena kondisi rumah belum memungkinkan untuk kembali ditempati.
Namun, di tengah kehilangan itu, Mashita memilih untuk tidak berhenti bergerak.
Memastikan Santri Selamat
Saat gempa terjadi, Mashita sedang menjalankan aktivitasnya sebagai guru di Pondok Pesantren Pancasila Reok. Ketika tanah tiba-tiba berguncang hebat, kepanikan seketika menyelimuti pesantren.
Bersama para santri, ia berhamburan mencari tempat yang aman.
Di tengah situasi yang serba tidak pasti, naluri seorang guru mengambil alih. Mashita memastikan satu per satu santri berada di tempat terbuka dan selamat. Keselamatan mereka menjadi hal pertama yang ada dalam pikirannya.
Setelah semua santri berkumpul dan situasi mulai terkendali, barulah pikirannya tertuju kepada kedua orang tuanya di rumah.
Ia segera menghubungi mereka.
Kabar bahwa kedua orang tuanya selamat menjadi kelegaan tersendiri. Meski rumah mengalami kerusakan, bagi Mashita keselamatan keluarganya jauh lebih penting.
Rumah yang rusak masih dapat diperbaiki. Kehilangan orang yang dicintai tidak mudah digantikan.
Dari Penyintas Menjadi Penguat
Beberapa waktu setelah gempa, BAZNAS membuka dapur umum di Pondok Pesantren Pancasila Reok. Di tempat itulah perjalanan Mashita sebagai penyintas sekaligus relawan dimulai.
Setiap pagi, selepas salat Subuh, ia bergabung dengan relawan lainnya untuk menyiapkan makanan bagi warga terdampak.
Sekitar 250 porsi makanan disiapkan setiap hari. Makanan tersebut kemudian didistribusikan ke kampung-kampung dan posko mandiri yang belum menerima bantuan atau masih menunggu datangnya logistik.
Bagi Mashita, pekerjaan itu lebih dari sekadar memasak dan membagikan makanan.
Setiap porsi yang diberikan adalah pesan sederhana kepada para penyintas: mereka tidak sendirian.
"Alhamdulillah, saya berterima kasih kepada BAZNAS yang sudah menyediakan dapur umum. Ini sangat membantu, baik bagi warga sekitar maupun bagi saya pribadi," ujar Mashita.
Ada sesuatu yang membuat langkah Mashita terasa berbeda. Ia membantu orang lain ketika dirinya sendiri masih membutuhkan bantuan.
Ia memahami bagaimana rasanya kehilangan tempat tinggal. Ia tahu bagaimana rasanya tidur di tengah ketidakpastian. Ia juga merasakan sendiri kecemasan ketika rumah keluarga tak lagi aman untuk ditinggali.
Karena itu, ketika melihat warga lain mengalami hal serupa, ia memilih hadir.
Semangat yang Tak Ikut Runtuh
Gempa mungkin meruntuhkan sebagian rumah Mashita. Namun, bencana itu tidak berhasil meruntuhkan semangatnya.
"Walaupun rumah saya terdampak dan sebagian runtuh, semangat saya tidak akan pernah runtuh untuk membantu teman-teman yang juga terdampak. Karena sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain," katanya.
Kalimat itu mungkin terdengar sederhana. Namun, dari seorang penyintas yang masih menghadapi kehilangan, maknanya menjadi jauh lebih dalam.
Mashita menunjukkan bahwa bangkit tidak selalu berarti keadaan sudah kembali normal.
Bangkit bisa berarti bangun setiap pagi meski rumah belum utuh.
Bangkit bisa berarti tetap mengkhawatirkan orang tua yang masih berada di pengungsian, tetapi pada saat yang sama membantu keluarga lain mendapatkan makanan.
Bangkit juga bisa berarti mengubah pengalaman pahit menjadi alasan untuk menguatkan sesama.
Dapur umum BAZNAS kemudian menjadi lebih dari sekadar tempat memasak. Bagi Mashita dan warga lainnya, tempat itu menjadi ruang untuk saling menguatkan dan memulai kembali kehidupan yang sempat porak-poranda.
Di sana, batas antara penerima dan pemberi bantuan menjadi begitu tipis. Seorang penyintas seperti Mashita tidak hanya menerima uluran tangan, tetapi juga ikut mengulurkannya kepada penyintas lainnya.
Harapan dari Tengah Keterbatasan
Rumah Mashita belum kembali seperti semula. Kedua orang tuanya pun masih berada di posko pengungsian.
Tetapi ia memilih untuk terus melangkah.
Dari dapur umum, ia menemukan satu pelajaran penting: manusia tidak harus menunggu hidupnya sempurna untuk dapat memberi manfaat kepada orang lain.
Justru dalam keterbatasan, kepedulian sering kali menemukan maknanya yang paling kuat.
Kini, Mashita berharap semakin banyak tangan yang tergerak membantu para penyintas gempa di NTT. Bantuan, menurutnya, tidak harus datang sekaligus. Sedikit demi sedikit pun dapat menjadi berarti bagi mereka yang sedang berusaha membangun kembali kehidupan.
"Harapan saya ke depan ada uluran tangan dari para dermawan yang ikhlas membantu para penyintas gempa. Bantuan tersebut tidak harus sekaligus, tetapi bisa diberikan secara perlahan, bukan hanya untuk saya, tetapi juga untuk teman-teman lain yang rumah dan kehidupannya terdampak gempa," ucapnya.
Di tengah puing-puing dan ketidakpastian, Mashita memilih sebuah cara untuk bertahan: tetap berguna.
Rumah boleh runtuh. Rasa aman boleh hilang untuk sementara. Namun, semangat untuk menolong sesama tidak harus ikut roboh.
Dan dari dapur umum sederhana di Pondok Pesantren Pancasila Reok, Mashita bersama para relawan mengajarkan satu hal yang barangkali paling dibutuhkan setelah bencana: harapan dapat tumbuh dari tangan-tangan yang saling menguatkan.