Diposting Rabu, 26 Agustus 2026
Oleh: Humas BAZNAS RI
BAZNAS Hadir Menembus Puing, Menyapu Air Mata, dan Menyalurkan Asa Korban Gempa NTT

Pesan khutbah Jumat di salah satu masjid Pota, Manggarai Timur, Nusa TenggaraTimur, tempat tim Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) hadir mendampingi penyintas gempa, kali ini terasa jauh lebih menggetarkan sanubari. Di bawah naungan terpal darurat, setiap bait kalimat dari pengeras suara meresap hangat menyentuh hati jemaah.

"Jangan biarkan iman kita runtuh bersama bangunan rumah kita. Tetap jagalah salat kita, tatap masa depan dengan penuh optimisme, dan yakinlah bahwa badai ini pasti akan berlalu," demikian pesan syahdu khutbah perdana pascagempa besar pada pekan sebelumnya yang mengalun di tengah puing-puing desa.

Pesan khutbah yang terus memantapkan jiwa itu pulalah yang membakar semangat para relawan BAZNAS, meski harus bertarung dengan rasa cemas saat gempa susulan menyergap. Di tengah ikhtiar menghadirkan senyum pengungsi, guncangan tiba-tiba kerap datang menguji ketahanan mental mereka.

"Tim BAZNAS sedang masak untuk makanan pengungsi, tapi tiba-tiba ada gempa. Jadi semua berhamburan keluar dan semuanya lemas, walaupun ini sudah dirasakan beberapa kali," ucap Dicky, salah seorang tim relawan BAZNAS, menggambarkan kepanikan di dapur umum.

Namun rasa takut tak pernah menyurutkan langkah tim BAZNAS Tanggap Bencana (BTB) dan Rumah Sehat BAZNAS (RSB) untuk terus menyapu trauma warga. Di posko kesehatan, doa dan tindakan berpadu haru saat seorang ibu lansia korban gempa bernama Sariyala, mengucap syukur.

"Saya keluar dari rumah, kemudian jatuh. Untung tidak tertindih motor. Terima kasih atas bantuannya, terima kasih banyak," ucap Sariyala dengan mata berkaca-kaca.

Di balik senyum hangat warga dan layanan kesehatan yang berdiri tegak, ada perjuangan fisik tak mudah yang harus ditempuh tim BAZNAS menuju Pota. Perjalanan panjang mengangkut paket bantuan logistik dari Borong menuju Reo saja sudah menghabiskan waktu hingga tujuh jam.

Ujian makin menguji kesabaran ketika akses utama di wilayah Reo terputus akibat kerusakan Jembatan Dampek yang tak bisa dilalui truk pengangkut. Tanpa mengulur waktu, para petugas bahu-membahu memindahkan pasokan bantuan secara manual ke kendaraan penjemput demi menempuh tiga jam sisa perjalanan.

Lelah dan medan yang berbahaya terbayar tuntas saat bantuan logistik tiba dengan selamat dan asap dapur umum kembali mengepul. Kebahagiaan sederhana pun terpancar dari raut wajah para korban gempa yang sekaligus menjadi pelipur peluh bagi tim BAZNAS setelah upaya panjang.

"Biasanya seperti itu saja, makan mie telur, mie telur. Belum ada pernah makan daging. Baru hari ini yang merasakan makan daging-daging," kata salah seorang pengungsi di Pota, Fitriani Junaidi, dengan penuh rasa syukur.

Kebahagiaan serupa membuncah dari raut wajah Abdul Razak. Dengan nada suara yang dipenuhi sukacita, ia mengungkapkan betapa kehadiran BAZNAS telah melapangkan beban warga.

"Terima kasih BAZNAS telah hadir di tengah-tengah kampung yang sudah runtuh ini karena gempa, sehingga masyarakat bisa mengobati kegaduhan, kecemasan. Datangnya BAZNAS ini memberikan keringanan bagi masyarakat," tuturnya.

Perjalanan terjal menembus puing dan akses terputus di Manggarai Timur, NTT, kata Ketua BAZNAS RI Dr. Ir. H. Sodik Mudjahid, M.Sc., tak pernah menyurutkan langkah pihaknya untuk terus memeluk duka para korban gempa di garda terdepan.

Di tengah ancaman guncangan susulan dan keterbatasan yang mengepung, para relawan terus bertahan mengalirkan santapan hangat, layanan medis, serta kehangatan harapan bagi warga yang kehilangan tempat tinggal.

"Perjuangan para petugas di lapangan adalah cermin dari kepedulian kita bersama, dan kami mengajak seluruh masyarakat untuk terus bergandengan tangan, menyalurkan bantuan agar saudara-saudara kita di NTT bisa kembali bangkit menatap masa depan," ujar Sodik.

Gempa NTT bisa saja merobohkan rumah warga, tetapi kepedulian BAZNAS turut memastikan iman dan optimisme mereka tidak akan pernah runtuh. Di balik puing yang berserakan, pesan khutbah dari pengeras suara masjid itu kini menjelma nyata lewat uluran tangan yang tak terputus.