Dari Hasil Panen untuk Sesama, Petani Binaan BAZNAS RI di Kabupaten Batu Bara Salurkan ZIS Rp16 Juta
Bagi para petani di Desa Kwalagunung, Kecamatan Datuk Lima Puluh, Kabupaten Batu Bara, Sumatra Utara, hasil panen bukan sekadar angka yang dihitung dari luas lahan dan banyaknya gabah yang terkumpul. Dari hasil kerja di sawah itu, tumbuh pula satu kesadaran: ada bagian yang patut kembali dibagikan kepada sesama.
Kesadaran itulah yang kini terlihat dari tiga kelompok tani binaan BAZNAS Republik Indonesia melalui Program Lumbung Pangan. Dengan semangat kemandirian dan kepedulian, mereka berhasil menghimpun dana Zakat, Infak, dan Sedekah (ZIS) sebesar Rp16.130.000.
Dana tersebut diserahkan di Posko Petani Desa Kwalagunung dan diterima langsung oleh Ketua BAZNAS Kabupaten Batu Bara, Kamis, 14 Agustus 2026. Penyerahan itu turut disaksikan Pendamping Lumbung Pangan BAZNAS RI, Kepala Desa Kwalagunung, pengurus kelompok tani binaan BAZNAS RI, serta Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Dinas Pertanian Kabupaten Batu Bara.
Jumlah tersebut berasal dari tiga kelompok tani. Kelompok Tani Al-Munawwarah menghimpun Rp5.580.000, Kelompok Tani Al-Ikhlas Rp5.200.000, dan Kelompok Tani Al-Hidayah Rp5.350.000.
Namun, cerita di balik angka Rp16,13 juta itu jauh lebih penting daripada nominalnya.
Ketika petani tumbuh menjadi pemberi
Program Lumbung Pangan BAZNAS RI tidak berhenti pada bagaimana petani menghasilkan lebih banyak. Program ini juga menjadi ruang bagi para petani untuk bertumbuh—bukan hanya dalam produktivitas, tetapi juga dalam kemandirian dan kepedulian sosial.
Melalui pendampingan dan penguatan kelompok, para petani binaan didorong untuk mengelola potensi pertanian secara lebih baik. Dari proses tersebut, perlahan muncul perubahan: petani yang sebelumnya berjuang untuk memenuhi kebutuhan sendiri kini mulai mampu menyisihkan sebagian hasil usahanya untuk membantu orang lain.
Di titik inilah pemberdayaan menemukan maknanya.
Petani tidak ditempatkan semata-mata sebagai penerima manfaat program. Mereka justru didorong menjadi subjek yang mampu berdiri lebih mandiri, menghasilkan, kemudian berbagi.
Hasil panen yang lahir dari kerja keras di lahan akhirnya memiliki perjalanan yang lebih panjang: dari sawah, menjadi sumber penghidupan, lalu berubah menjadi manfaat bagi masyarakat.
Zakat yang kembali ke tengah masyarakat
Ketua BAZNAS Kabupaten Batu Bara menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada para petani binaan yang telah menunjukkan komitmen tersebut.
Dana ZIS yang telah dihimpun selanjutnya akan disalurkan kepada masyarakat Desa Kwalagunung yang berhak menerimanya. Dengan demikian, manfaat yang lahir dari aktivitas pertanian para petani binaan dapat kembali dirasakan oleh lingkungan tempat mereka tinggal.
Insyaallah, penyaluran ZIS tersebut akan dilaksanakan pada Rabu, 19 Agustus 2026, di Masjid Kwalagunung.
Bagi masyarakat penerima, bantuan itu mungkin hadir dalam bentuk yang sederhana. Namun, di baliknya terdapat sebuah siklus kebaikan: ada petani yang bekerja di lahan, ada pendampingan yang menguatkan mereka, ada lembaga yang membuka akses pemberdayaan, dan ada masyarakat yang kemudian menerima manfaat.
Dari pemberdayaan menuju kebermanfaatan
Kisah para petani Kwalagunung menunjukkan bahwa keberhasilan sebuah program pemberdayaan tidak selalu harus diukur dari seberapa besar hasil produksi meningkat.
Ukuran lainnya adalah ketika penerima manfaat mulai mampu menjadi pemberi manfaat.
Inilah salah satu semangat yang dibangun melalui Program Lumbung Pangan BAZNAS RI. Pertanian tidak hanya diarahkan menjadi jalan menuju peningkatan kesejahteraan petani, tetapi juga menjadi pintu tumbuhnya kemandirian dan kepedulian sosial.
Para petani binaan di Kwalagunung telah menunjukkan bahwa hasil panen dapat memiliki arti yang lebih luas. Sebagian menjadi penghidupan bagi keluarga, sebagian lainnya menjadi jalan berbagi untuk sesama.
Dari sawah yang mereka garap, tumbuh sebuah pesan sederhana: ketika pemberdayaan berhasil, manfaat tidak berhenti pada orang yang diberdayakan. Ia mengalir, menyentuh lebih banyak kehidupan.