Diposting Kamis, 13 Agustus 2026
Oleh: Humas BAZNAS RI
Dari Kebun Warga ke Kotak Snack, Putri Sawargi Menjaga Asa Ekonomi Lewat Kue Tradisional

Di tengah kesibukan mengolah hasil kebun warga menjadi Sirup Lemon Garut, tangan-tangan anggota Kelompok Putri Sawargi tak pernah benar-benar berhenti bekerja. Ada yang sibuk menyiapkan bahan baku sirup, sementara anggota lainnya mengolah adonan menjadi kue tradisional yang akrab di lidah masyarakat.

Di bawah kepemimpinan Reni, aktivitas kelompok berjalan dengan semangat gotong royong. Setiap anggota memiliki peran masing-masing. Kesibukan bukan menjadi alasan untuk berhenti berkarya. Justru dari pembagian tugas itulah berbagai produk pangan dapat terus dihasilkan setiap hari.

Bugis, Burayot, Cucur, dan beragam jajanan pasar menjadi bagian dari produk yang dikerjakan kelompok. Kue-kue tradisional tersebut bukan sekadar sajian, tetapi juga menjadi jalan bagi anggota kelompok untuk mengembangkan keterampilan sekaligus menambah penghasilan keluarga.

Seratus Kotak Snack, Seratus Harapan

Hari itu, kesibukan Putri Sawargi bertambah. Sebanyak 100 kotak snack dipesan untuk sebuah kegiatan kantor.

Dengan harga Rp10.000 per kotak, pesanan tersebut menghasilkan omzet Rp1 juta. Setelah dikurangi harga pokok produksi sebesar Rp7.000 per kotak, kelompok memperoleh keuntungan sebesar Rp300.000.

Bagi sebuah kelompok usaha masyarakat, angka tersebut bukan sekadar hitungan rupiah. Di balik setiap kotak snack ada bahan baku yang harus disiapkan, adonan yang diolah, kue yang dimasak, kemasan yang ditata, hingga tangan-tangan anggota yang bekerja bersama.

Setiap pesanan pun menjadi penyemangat untuk terus melangkah.

“Alhamdulillah, kami bersyukur masih diberi kesempatan untuk terus bekerja dan berkarya bersama. Setiap pesanan, sekecil apa pun, bagi kami adalah rezeki sekaligus kepercayaan dari masyarakat. Mudah-mudahan usaha ini terus berkembang dan bisa membawa manfaat bagi anggota serta keluarga,” ungkap Bu Reni.

Rasa syukur itulah yang menjadi salah satu energi Putri Sawargi untuk bertahan dan berkembang. Sebab bagi mereka, keberhasilan tidak selalu diukur dari besarnya keuntungan, tetapi juga dari kesempatan untuk tetap produktif, saling membantu, dan menghadirkan manfaat bagi lingkungan sekitar.

Dari Enam Reseller, Produk Menjangkau Lebih Banyak Orang

Pesanan kue juga tidak hanya datang secara langsung. Putri Sawargi kini didukung enam reseller rutin yang ikut memasarkan produk ke berbagai wilayah di Cisurupan dan sekitarnya.

Kehadiran reseller menjadi jembatan yang mempertemukan produk rumahan kelompok dengan konsumen yang lebih luas. Dari satu tangan ke tangan lainnya, kue tradisional buatan anggota Putri Sawargi menemukan jalannya menuju meja keluarga, acara kantor, hingga berbagai kegiatan masyarakat.

Bagi kelompok, kepercayaan tersebut menjadi sesuatu yang patut disyukuri sekaligus dijaga.

Semakin banyak produk yang terserap pasar, semakin besar pula peluang bagi kelompok untuk mengolah lebih banyak bahan baku, meningkatkan produksi, dan memberikan manfaat ekonomi kepada para anggotanya.

Gotong Royong yang Menghidupkan Ekonomi

Yang membuat aktivitas Putri Sawargi terus berjalan adalah semangat untuk saling menguatkan.

Ketika sebagian anggota mengolah lemon menjadi sirup, anggota lainnya memastikan pesanan kue tetap terpenuhi. Tidak ada pekerjaan yang berdiri sendiri. Semua saling terhubung dalam satu tujuan: mengubah potensi yang ada di sekitar menjadi sesuatu yang memiliki nilai ekonomi.

Pola kerja ini sekaligus menunjukkan bahwa hasil kebun warga tidak harus berhenti sebagai bahan mentah. Lemon dapat diolah menjadi sirup, sementara keterampilan membuat pangan tradisional dapat dikembangkan menjadi produk bernilai jual.

Di sinilah Putri Sawargi menemukan kekuatannya—menggabungkan potensi pertanian, keterampilan perempuan, semangat gotong royong, dan kebutuhan pasar dalam satu gerakan ekonomi masyarakat.

Reni berharap ke depan kelompok dapat terus meningkatkan kualitas produk, menambah variasi, serta memperluas pemasaran. Cita-citanya, Putri Sawargi dapat berkembang menjadi bagian dari solusi hilirisasi hasil pertanian sekaligus menjadi pusat oleh-oleh khas Garut yang mampu menggerakkan ekonomi anggotanya.

“Kami ingin terus belajar dan berkembang. Semoga apa yang kami kerjakan ini bukan hanya menjadi usaha untuk mendapatkan penghasilan, tetapi juga menjadi jalan untuk membantu petani, menjaga makanan tradisional, dan membuka peluang ekonomi bagi anggota,” tutur Reni.

Dari dapur sederhana, ternyata bisa lahir begitu banyak harapan: hasil kebun yang menjadi produk bernilai, kue tradisional yang tetap lestari, dan penghasilan yang membantu keluarga.

Dan di tangan perempuan-perempuan Putri Sawargi, harapan itu terus dirawat—satu botol sirup, satu kotak snack, dan satu pesanan demi satu pesanan.

Sebab terkadang, keberhasilan tidak datang dalam lompatan besar. Ia tumbuh perlahan, dari kerja yang dilakukan dengan tekun, dari kebersamaan yang dijaga, dan dari rasa syukur atas setiap rezeki yang datang.