Keberkahan yang Mengalir dari Balai Ternak, 30 Paket Daging DAM Umrah untuk Mustahik di Kesongo
Pagi itu, dari Balai Ternak di Desa Kesongo, Kecamatan Tuntang, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, keberkahan bergerak dari kandang menuju meja makan warga. Tiga ekor domba yang selama ini dirawat oleh anggota Kelompok Ternak Mendo Ngrembaka Kesongo akhirnya menjadi bagian dari Program DAM Umrah BAZNAS.
Bukan sekadar aktivitas penyembelihan ternak, momen tersebut menjadi gambaran bagaimana zakat dapat menghadirkan manfaat yang berlapis: menggerakkan ekonomi peternak mustahik sekaligus menghadirkan pangan bagi masyarakat yang membutuhkan.
Sebanyak tiga ekor domba dengan bobot rata-rata 25 kilogram per ekor disiapkan untuk memenuhi kebutuhan program. Masing-masing domba memiliki nilai Rp2 juta, sehingga transaksi tersebut menghasilkan omzet Rp6 juta bagi kelompok ternak.
Bagi kelompok, angka tersebut bukan sekadar nilai penjualan. Di baliknya ada proses panjang merawat ternak, menjaga kualitas, hingga memastikan domba yang dihasilkan mampu memenuhi kebutuhan pasar.
Penyembelihan dilakukan sesuai dengan syariat Islam dengan tetap memperhatikan kebersihan, keamanan pangan, dan kesejahteraan hewan. Dari tiga ekor domba tersebut, dihasilkan 30 kantong daging yang kemudian disalurkan kepada 30 orang mustahik di sekitar Balai Ternak.
Dari Ternak, Tumbuh Harapan
Kisah di Kesongo memperlihatkan bahwa pemberdayaan melalui peternakan tidak berhenti ketika ternak terjual.
Ada manfaat yang kembali kepada anggota kelompok dalam bentuk pendapatan. Ada pula manfaat yang mengalir lebih jauh kepada masyarakat melalui pembagian daging.
Inilah semangat yang dibangun melalui Balai Ternak BAZNAS: menjadikan mustahik tidak hanya sebagai penerima manfaat, tetapi juga sebagai bagian dari proses penciptaan manfaat.
Domba yang dipelihara dengan tekun oleh peternak akhirnya memiliki nilai ekonomi. Nilai ekonomi itu kemudian bertransformasi menjadi nilai sosial ketika dagingnya sampai kepada masyarakat yang membutuhkan.
Satu ekor domba mungkin tampak sederhana. Namun ketika dikelola dalam ekosistem pemberdayaan yang tepat, manfaatnya dapat bergerak dari peternak kepada keluarga, dari kelompok kepada masyarakat, dan dari zakat kepada keberdayaan.
Syukur yang Tak Terpisahkan dari Zakat
Bagi para penerima daging, penyaluran ini menjadi bentuk kepedulian yang dirasakan secara langsung. Bagi anggota kelompok ternak, keberhasilan memenuhi kebutuhan DAM Umrah menjadi penyemangat untuk terus meningkatkan kualitas ternak dan pengelolaan usaha.
Di tengah proses tersebut, ada satu hal yang tidak kalah penting: rasa syukur.
“Kami bersyukur karena melalui Balai Ternak, hasil kerja keras kami dapat memberikan manfaat yang lebih luas. Terima kasih kepada para muzaki yang telah menitipkan amanahnya melalui BAZNAS. Dukungan itu menjadi penyemangat bagi kami untuk terus berkembang dan menghadirkan manfaat bagi masyarakat.”
Rasa syukur itu juga menjadi pengingat bahwa setiap rupiah zakat yang ditunaikan oleh muzaki membawa amanah yang panjang. Ada peternak yang mendapatkan kesempatan mengembangkan usaha. Ada mustahik yang memperoleh manfaat dari hasil usaha tersebut. Dan ada masyarakat yang merasakan kehadiran zakat dalam bentuk yang nyata.
“Terima kasih kepada para muzaki yang telah berbagi dan mempercayakan zakatnya. Dari kebaikan yang diberikan, tumbuh banyak manfaat—menguatkan peternak, membantu mustahik, dan menghadirkan keberkahan hingga ke meja makan masyarakat.”
Ketika Zakat Menjadi Gerakan Pemberdayaan
Program DAM Umrah menjadi salah satu ruang yang mempertemukan ibadah, pemberdayaan ekonomi, dan kepedulian sosial.
Di satu sisi, kebutuhan ibadah jamaah umrah dapat terpenuhi. Di sisi lain, peternak anggota Balai Ternak memperoleh pasar bagi ternaknya. Sementara itu, masyarakat sekitar mendapatkan manfaat berupa paket daging.
Rantai kebermanfaatan inilah yang membuat program pemberdayaan zakat memiliki arti lebih luas.
Keberhasilan Kelompok Ternak Mendo Ngrembaka Kesongo memenuhi kebutuhan tiga ekor domba untuk Program DAM Umrah sekaligus menghasilkan omzet Rp6 juta menunjukkan bahwa mustahik memiliki potensi untuk tumbuh ketika mendapatkan pendampingan, akses pasar, dan kesempatan yang tepat.
Balai Ternak pun tidak hanya menjadi tempat memelihara hewan. Ia menjadi ruang belajar, bekerja, bertumbuh, dan membangun kemandirian.
Dari kandang-kandang sederhana di Kesongo, tumbuh sebuah pesan penting: bahwa pemberdayaan membutuhkan proses, tetapi ketika proses itu dijalankan bersama, hasilnya dapat dirasakan oleh banyak orang.
Dari Kesongo, Keberkahan Terus Mengalir
Tiga ekor domba telah disembelih. Tiga puluh kantong daging telah dibagikan. Rp6 juta omzet telah tercatat sebagai bagian dari perjalanan usaha kelompok.
Namun kisah ini sejatinya bukan tentang angka.
Ini adalah cerita tentang kerja keras peternak, tentang amanah zakat, tentang kepedulian kepada sesama, dan tentang kebaikan yang terus berpindah dari satu tangan ke tangan lainnya.
Dari muzaki, amanah mengalir melalui BAZNAS. Dari BAZNAS, pemberdayaan tumbuh bersama peternak. Dari peternak, manfaat kembali kepada masyarakat.
Begitulah keberkahan bekerja.
Ia tidak berhenti pada satu penerima, tetapi terus bergerak, tumbuh, dan menemukan jalan untuk menghadirkan manfaat baru.
Melalui Kelompok Ternak Mendo Ngrembaka Kesongo dan Balai Ternak BAZNAS Kabupaten Semarang, harapan itu terus dipelihara. Bukan hanya untuk menghasilkan ternak yang berkualitas dan berdaya saing, tetapi juga untuk membangun kemandirian mustahik dan memperluas manfaat zakat produktif.
Sebab pada akhirnya, keberhasilan sebuah program bukan hanya tentang berapa banyak yang dihasilkan, tetapi tentang berapa banyak kehidupan yang ikut menjadi lebih baik karenanya.