Berkat Panel Surya BAZNAS, Malam Tanpa Gulita Akhirnya Menjadi Milik Warga Pelosok Indramayu
Perjuangan panjang ratusan warga pelosok Indramayu menghadapi pekatnya malam selama 25 tahun resmi berakhir setelah malam tanpa gulita akhirnya hadir di rumah mereka berkat instalasi panel surya dari Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS).
Bagi Ibu Inah (56 tahun), kedatangan energi bersih ini bukan sekadar urusan penerangan biasa, melainkan awal dari hidup yang lebih layak setelah puluhan tahun hidup penuh keterbatasan di tengah kawasan lahan Perhutani, Blok Pasir Torok, Desa Cikawung, Kecamatan Terisi, Kabupaten Indramayu.
Selama seperempat abad itu, saban matahari terbenam ia dan ratusan warga lainnya terpaksa mengandalkan lampu cempor berbahan bakar solar yang temaram sekaligus berasap demi menjaga rumah sederhananya tetap terang.
“Apalagi Ibu sudah tua, jadi enak sekarang kalau mau mandi atau mau apa juga kalau sudah terang mah. Karena kalau pakai damar dulu serba susah, gelap," ucap Inah sambil memperlihatkan sudut rumah sederhananya yang kini telah terpasang lima lampu gratis.
Matanya yang berkaca-kaca tidak mampu menyembunyikan haru syukur saat Inah menyampaikan terima kasih kepada BAZNAS karena kehadiran lampu gratis ini membuat keluarga kecilnya kini bisa beraktivitas malam dengan layak seperti warga lainnya.
“Terima kasih kepada BAZNAS, sudah ngasih terang-terang lampu ini ke Ibu. Terima kasih banget,” kata Inah dengan suara yang bergetar pelan menumpahkan seluruh rasa syukur.
Harapan baru itu mulai hadir ketika BAZNAS RI menyerahkan bantuan Program Rumah Terang berupa instalasi listrik mandiri berbasis panel surya kepada warga Desa Cikawung, Kecamatan Terisi, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, pada Kamis (9/7/2026). Program ini menjadi solusi bagi masyarakat yang selama puluhan tahun belum dapat menikmati akses listrik karena keterbatasan jaringan di kawasan Perhutani.
Kehadiran inovasi berbasis energi terbarukan di wilayah ini memang menjadi jawaban atas jeritan warga pelosok yang puluhan tahun terisolasi dari peradaban modern. Kuwu atau Kepala Desa Cikawung, Sept Rahayu, memaparkan bahwa kondisi geografis desanya yang sangat luas dan memencar di dalam kawasan Perhutani menjadi dinding pembatas utama yang membuat jaringan listrik konvensional PLN tidak bisa masuk secara mandiri.
"Kami sudah beberapa kali mengusulkan pembangunan jaringan listrik, tetapi terkendala karena sebagian wilayah berada di kawasan Perhutani,” keluh Sept Rahayu.
Selaku pemimpin desa, ia menyampaikan terima kasih kepada BAZNAS karena inovasi panel surya ini akhirnya menuntaskan penantian panjang puluhan tahun warganya yang selama ini terisolasi dalam pekatnya kegelapan hutan Indramayu.
“Alhamdulillah, BAZNAS hadir membawa solusi melalui penerangan tenaga surya," katanya.
Keberhasilan mengusir gulita ini mempertegas komitmen Ketua BAZNAS RI Dr. Ir. H. Sodik Mudjahid, M.Sc. yang menyebut zakat produktif kini bergerak nyata menyentuh wilayah pelosok yang belum terjamah pembangunan, seperti pemasangan panel surya bagi 102 rumah dan satu masjid untuk warga Cikawung.
Sodik mengatakan gerakan penerangan yang ia sebut sebagai Program Rumah Terang BAZNAS bahkan ditargetkan menyasar 452 kepala keluarga secara nasional, sehingga akan ada lebih banyak warga yang resmi merdeka dari cengkeraman gulita seperti yang terjadi pada warga Desa Cikawung.
“Dengan program ini, harapannya masyarakat semakin cerdas, semakin rajin belajar terutama putra-putrinya, semakin menambah semangat untuk hidupnya, semakin menambah ibadahnya, semakin menambah kerjanya, sehingga secara umum semakin sejahtera,” tuturnya.