Diposting Rabu, 13 Mei 2026
Oleh: Humas BAZNAS RI
Dari Limbah Menjadi Berkah: Kisah Samri Menumbuhkan Harapan di Kawasan Bendungan Jatigede

Di balik hamparan lahan garapan di kawasan belakang Bendungan Jatigede, tersimpan kisah sederhana tentang ketekunan, inovasi, dan harapan yang tumbuh perlahan. Bukan hanya tentang panen pisang kapas, tetapi tentang bagaimana limbah ternak mampu diubah menjadi sumber kehidupan baru bagi keluarga mustahik.

Adalah Samri, anggota mustahik Balai Ternak Jatimekar di Kampung Jatigede, Desa Cijeungjing, Kecamatan Jatigede, Kabupaten Sumedang, yang kini mulai memetik hasil dari usaha yang ia rawat dengan penuh kesabaran. Di sela aktivitasnya mengelola ternak, ia memanfaatkan lahan garapan milik PUPR di area belakang bendungan untuk menanam pisang kapas.

Siapa sangka, lahan yang sebelumnya kurang produktif itu kini menghadirkan hasil panen yang menjanjikan.

Kunci keberhasilan Samri terletak pada pola pertanian terintegrasi yang ia jalankan. Secara konsisten, ia memanfaatkan kotoran hewan (kohe) dari Balai Ternak sebagai pupuk organik untuk menyuburkan tanaman pisangnya. Limbah ternak yang kerap dianggap tidak bernilai, di tangan Samri justru berubah menjadi sumber kesuburan yang menghadirkan manfaat ekonomi nyata.

Pohon-pohon pisang tumbuh subur, berbuah lebat, dan kini mulai memasuki masa produktif panen. Dari hasil panen tersebut, Samri memperoleh tambahan penghasilan yang membantu menopang kebutuhan ekonomi keluarga di luar usaha peternakan yang selama ini menjadi mata pencaharian utama.

“Alhamdulillah, saya bersyukur sekali hasilnya bisa dirasakan sekarang. Dari limbah ternak ternyata bisa jadi berkah untuk keluarga. Semoga ke depan hasilnya semakin baik dan bisa menjadi contoh juga untuk yang lain,” ujar Samri dengan penuh rasa syukur.

Lebih dari sekadar panen, kisah ini menjadi gambaran nyata tentang pentingnya pemberdayaan yang berkelanjutan. Melalui program Balai Ternak, BAZNAS hadir tidak hanya memberikan bantuan, tetapi juga membangun kemandirian mustahik melalui pendampingan, penguatan kapasitas, dan pemanfaatan potensi lokal secara produktif.

Peran BAZNAS terlihat dalam mendorong lahirnya ekosistem usaha yang saling terhubung antara peternakan dan pertanian. Pendekatan ini membuktikan bahwa pemberdayaan tidak selalu dimulai dari hal besar, melainkan dari kemampuan melihat peluang di sekitar—bahkan dari sesuatu yang sebelumnya dianggap limbah.

Pendamping lapangan menilai langkah yang dilakukan Samri patut menjadi inspirasi bagi anggota kelompok lainnya. Semangat untuk terus berusaha, memanfaatkan sumber daya yang ada, serta keberanian mencoba pola usaha terintegrasi menjadi modal penting dalam membangun ekonomi keluarga yang lebih kuat dan mandiri.

Di tengah berbagai tantangan ekonomi, kisah Samri menjadi pengingat bahwa harapan bisa tumbuh dari mana saja. Dari kandang ternak, dari lahan sederhana di kawasan bendungan, hingga dari tangan-tangan pekerja keras yang tidak pernah berhenti berikhtiar.

Dan melalui dukungan serta pendampingan BAZNAS, harapan itu kini perlahan berubah menjadi kenyataan.