Diposting Selasa, 12 Mei 2026
Oleh: Humas BAZNAS RI
Kelompok Tani Itikurih Panen Harapan, Program BAZNAS Hadirkan Dampak Ekonomi dan Lingkungan

Pagi itu, hamparan kebun edamame di Desa Pasirkiamis tampak lebih hidup dari biasanya. Di sela udara sejuk Kecamatan Pasirwangi, tawa para petani terdengar bersahutan. Tangan-tangan mereka cekatan memetik polong edamame yang siap dipanen. Bagi Kelompok Tani Itikurih, Selasa (12/05/2025) bukan sekadar hari panen biasa. Hari itu menjadi bukti bahwa program pemberdayaan dari Badan Amil Zakat Nasional atau BAZNAS benar-benar menghadirkan perubahan nyata.

Program yang dijalankan BAZNAS tidak hanya membantu meningkatkan pendapatan mustahik, tetapi juga menciptakan dampak sosial dan lingkungan yang terasa hingga ke sekitar desa. Dari kebun hingga proses distribusi, roda ekonomi bergerak lebih luas dan melibatkan lebih banyak warga.

Panen edamame sendiri dilakukan dengan dua cara. Pertama, petik langsung di kebun. Kedua, proses petik dilakukan di rumah warga agar pekerjaan lebih cepat dan efisien. Dari pola sederhana ini, lahir peluang penghasilan tambahan bagi masyarakat sekitar.

Pak Ujang dan Pak Alit menjadi salah satu contoh nyata manfaat tersebut. Keduanya membantu proses pengangkutan edamame dari kebun menuju titik petik di rumah-rumah warga. Untuk setiap kilogram pengiriman, mereka memperoleh upah Rp1.000. Pada panen kali ini, sekitar 200 kilogram edamame berhasil diangkut. Artinya, masing-masing mendapatkan tambahan penghasilan sebesar Rp100 ribu.

Meski terlihat sederhana, tambahan penghasilan itu sangat berarti bagi mereka. Di tengah kebutuhan hidup yang terus meningkat, kesempatan bekerja dari aktivitas panen menjadi berkah tersendiri.

“Alhamdulillah, sangat membantu untuk kebutuhan sehari-hari,” ungkap salah seorang pekerja dengan wajah penuh syukur.

Inilah wajah pemberdayaan yang terus diupayakan BAZNAS. Tidak berhenti pada bantuan modal atau program pertanian semata, tetapi juga menciptakan ekosistem ekonomi yang menghidupkan banyak pihak. Ketika hasil panen meningkat, tenaga kerja ikut terserap, distribusi berjalan, dan masyarakat sekitar ikut merasakan manfaatnya.

Lebih dari itu, program pertanian seperti edamame juga memberi dampak positif terhadap lingkungan. Lahan pertanian menjadi lebih produktif, aktivitas pertanian kembali tumbuh, dan masyarakat semakin terdorong menjaga keberlanjutan alam di sekitarnya.

Melalui langkah-langkah kecil yang konsisten, BAZNAS menunjukkan bahwa zakat bukan hanya tentang memberi bantuan sesaat. Zakat mampu menjadi penggerak perubahan, menghadirkan harapan baru, sekaligus menumbuhkan kemandirian masyarakat desa.

Di balik panen edamame Kelompok Tani Itikurih, tersimpan cerita tentang gotong royong, keberdayaan, dan harapan yang terus tumbuh bersama.