Diposting Selasa, 31 Maret 2026
Oleh: Humas BAZNAS RI
Dari Buruh Pabrik ke Saudagar Mandiri, Kisah Khoirun Nisa Bangkit Bersama BAZNAS

Di sudut Desa Rengging, Kecamatan Pecangaan, Jepara, geliat ekonomi kecil tumbuh dari sebuah gerai sederhana. Di balik etalase yang tertata rapi dan stok barang yang nyaris tak pernah kosong, ada sosok perempuan tangguh bernama Khoirun Nisa (38). Perjalanannya bukan sekadar kisah usaha ritel biasa, melainkan potret transformasi hidup yang menginspirasi—dan tak lepas dari sentuhan program pemberdayaan BAZNAS.

Dulu, Nisa adalah seorang buruh di perusahaan modal asing di Jepara. Rutinitas kerja yang padat dan keterbatasan waktu bersama keluarga perlahan menumbuhkan tekad dalam dirinya: ia ingin mandiri. Keputusan besar pun diambil—meninggalkan pekerjaan tetap demi membangun usaha sendiri.

Langkah itu membawanya bergabung dengan program ZMart, sebuah inisiatif yang dirancang untuk menguatkan pelaku usaha kecil berbasis komunitas. Dari sinilah perjalanan barunya dimulai.

Hari demi hari, Nisa menjalankan usahanya dengan disiplin tinggi. Salah satu kunci keberhasilannya sederhana, namun konsisten: rutin kulakan dan menjaga stok tetap lengkap. Dua hingga tiga kali dalam seminggu, ia memastikan barang dagangannya tersedia—mulai dari sembako, gas elpiji, hingga aneka camilan dan kebutuhan rumah tangga.

Upaya itu membuahkan hasil nyata. Kini, omzet hariannya rata-rata mencapai Rp700.000. Saat akhir pekan, angka itu melonjak hingga lebih dari Rp1.000.000 per hari. Bagi Nisa, momen akhir pekan bukan sekadar waktu ramai pembeli, tetapi juga saat pelanggan melakukan belanja mingguan dan melunasi utang.

“Biasanya ramai saat akhir pekan, apalagi bertepatan dengan jadwal gajian. Banyak yang sekalian belanja dan bayar utang,” ujarnya.

Lebih dari sekadar angka, keberhasilan ini mencerminkan perubahan besar dalam hidupnya. Dari yang sebelumnya bergantung pada upah bulanan, kini ia menjadi pemilik usaha yang mandiri dan produktif.

Di sinilah peran BAZNAS menjadi semakin nyata. Melalui program ZMart, lembaga ini tidak hanya memberikan bantuan, tetapi juga membangun kapasitas, kepercayaan diri, dan keberlanjutan usaha bagi para mustahik. Pendekatan ini menjadikan zakat bukan sekadar bantuan konsumtif, melainkan motor penggerak ekonomi umat.

Kisah Khoirun Nisa adalah bukti bahwa dengan pendampingan yang tepat, peluang sekecil apa pun dapat tumbuh menjadi kekuatan ekonomi yang nyata. Dari sebuah gerai kecil di desa, lahir inspirasi besar: bahwa kemandirian bisa diraih, dan zakat—melalui tangan yang amanah—mampu mengubah kehidupan.