Berdaya Bersama BAZNAS, Usaha Tahu Bakso Sulis di Malang Tumbuh Pesat
Dari dapur sederhana di sudut rumahnya di Malang, aroma tahu bakso hangat pernah menjadi satu-satunya harapan Sulis Tiningsih (55) untuk membantu perekonomian keluarga. Dengan peralatan seadanya dan semangat yang tak pernah padam, ia meracik adonan, mengukus, lalu menjajakan dagangannya kepada tetangga sekitar. Saat itu, Sulis tak pernah membayangkan bahwa usaha kecilnya kelak berkembang menjadi kedai modern dengan konsep kekinian.
Perjalanan Sulis berubah ketika ia bergabung sebagai mitra UMKM binaan BAZNAS Microfinance Desa (BMD) Malang. Melalui program pemberdayaan tersebut, Sulis tidak hanya memperoleh bantuan permodalan, tetapi juga pendampingan usaha yang berkelanjutan. Dari sinilah langkah kecilnya mulai bertransformasi menjadi usaha yang lebih profesional dan berdaya saing.
Awalnya, Sulis hanya menjual tahu bakso rumahan. Namun seiring pendampingan yang diterimanya, ia mulai berani berinovasi. Kini, menu yang ditawarkan semakin beragam: dimsum, gyoza, bakso, hingga aneka minuman kekinian seperti kopi, green tea, red velvet, dan thai tea. Inovasi ini menjadikan usahanya lebih relevan dengan selera pasar, terutama kalangan anak muda.
Harga yang ditawarkan pun tetap bersahabat. Jajanan dibanderol mulai Rp3.000, sementara minuman kekinian dijual mulai Rp5.000. Strategi harga merakyat ini membuat produknya dapat dinikmati berbagai kalangan, dari anak-anak hingga orang dewasa.
Tak berhenti pada variasi menu, Sulis juga mengembangkan konsep penjualan yang lebih modern. Selain memiliki kedai sendiri, ia menghadirkan konsep street food on wheels melalui gerobak motor. Dengan konsep ini, ia dapat berpindah ke berbagai titik strategis, menjangkau pelanggan lebih luas, serta meningkatkan potensi penjualan harian.
Transformasi usaha Sulis bukan terjadi secara instan. Ia aktif mengikuti berbagai pelatihan dan pembinaan dari BAZNAS. Melalui pendampingan tersebut, ia belajar manajemen usaha, inovasi produk, hingga strategi pemasaran digital. Kini, Sulis memanfaatkan media sosial untuk mempromosikan produknya, sehingga jangkauan pasar semakin luas.
“Saya sangat berterima kasih kepada BAZNAS Microfinance Desa Malang. Selain membantu dalam permodalan, kami juga mendapat pendampingan usaha dan pembuatan legalitas usaha. Kemarin saya juga dibantu mendapatkan kemasan gratis untuk tahu bakso frozen saya, sehingga tampilannya lebih menarik dan semakin diminati konsumen,” ungkap Sulis penuh syukur.
Kemasan baru yang lebih menarik membuat produk tahu bakso frozen miliknya memiliki nilai jual lebih tinggi dan siap bersaing di pasar yang lebih luas. Legalitas usaha yang difasilitasi juga memberikan kepercayaan lebih bagi konsumen.
Kisah Sulis menunjukkan bahwa pemberdayaan mustahik produktif bukan sekadar bantuan sesaat, melainkan proses berkelanjutan yang mendorong kemandirian ekonomi. Melalui dukungan BAZNAS, usaha rumahan yang dahulu sederhana kini tumbuh menjadi bisnis yang adaptif, inovatif, dan berpotensi berkembang lebih besar.
Dari dapur rumah menuju kedai modern dan gerobak keliling, langkah Sulis menjadi simbol harapan. Ketekunan, kemauan belajar, dan pendampingan yang tepat mampu mengangkat usaha kecil menjadi lebih berdaya.
Perjalanan ini juga menegaskan peran BAZNAS dalam menghadirkan solusi nyata bagi masyarakat. Dengan pendekatan pemberdayaan yang berkelanjutan, BAZNAS tidak hanya membantu mustahik memenuhi kebutuhan hari ini, tetapi juga membuka jalan menuju masa depan yang lebih mandiri dan sejahtera.